Wamenkop RI di Fatayat NU Coop Connect: Saatnya Koperasi Jadi Penghubung Potensi dan Penggerak Ekonomi Nahdliyin
Blitar, 5 Juli 2026 — Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Blitar kembali menegaskan komitmennya dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan melalui penyelenggaraan Fatayat NU Coop Connect bertema "Menghubungkan Potensi, Menguatkan Jejaring, Menumbuhkan Kesejahteraan", Minggu (5/7/2026), pukul 10.00 WIB di Pendopo Pondok Pesantren Maftahul Uluum Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Forum strategis ini dihadiri oleh Farida Farichah selaku Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia dan Anggia Erma Rini, Ketua Komisi VI DPR RI, bersama para pengurus koperasi, pelaku UMKM, tokoh pesantren, serta kader Fatayat NU dari berbagai wilayah.
Dalam keynote speech-nya, Wakil Menteri Koperasi RI menegaskan bahwa koperasi tidak lagi cukup dipandang sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi harus berkembang menjadi pusat ekosistem ekonomi masyarakat yang menghubungkan produksi, distribusi, pemasaran, hingga kolaborasi usaha.
"Koperasi harus menjadi rumah bersama bagi masyarakat untuk saling menguatkan. Inilah semangat ta'awun yang diajarkan Islam, yakni gotong royong dalam membangun kesejahteraan bersama," tegas Farida.
Menurutnya, Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial yang sangat besar, mulai dari pesantren, sekolah, badan otonom, koperasi, hingga jutaan warga Nahdliyin. Seluruh potensi tersebut perlu dihubungkan dalam satu ekosistem ekonomi yang saling menopang agar mampu menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Farida juga memberikan apresiasi kepada PC Fatayat NU Kabupaten Blitar beserta Koperasi Yasmin Barokah Sejahtera yang dinilai telah mengambil langkah nyata dalam membangun ekonomi berbasis perempuan. Menurutnya, koperasi perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi keluarga sekaligus motor pemberdayaan UMKM.
Lebih jauh, ia menggambarkan pentingnya membangun sinergi antara tiga pilar utama, yakni koperasi perempuan, koperasi pondok pesantren, dan koperasi sekolah. Ketiganya harus saling terhubung sehingga mampu membentuk rantai nilai yang utuh, mulai dari produksi, pembiayaan, edukasi, hingga pemasaran produk lokal.
"Ketika produk pesantren dipasarkan melalui jaringan koperasi perempuan, sementara koperasi sekolah menjadi laboratorium pendidikan sekaligus pasar bagi produk lokal, maka akan lahir Ekosistem Ekonomi Nahdliyin yang kuat," jelasnya.
Wamenkop juga menekankan bahwa penguatan koperasi merupakan bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pemerintah terus mendorong transformasi koperasi agar semakin modern, profesional, adaptif terhadap teknologi digital, serta mampu menjadi agregator usaha masyarakat melalui penguatan rantai pasok, akses pembiayaan, dan perluasan pasar.
Menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks, Farida mengajak seluruh koperasi di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kemitraan, serta membangun jejaring usaha antarkoperasi.
"Indonesia Emas tidak mungkin diwujudkan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan jutaan pelaku usaha yang tangguh, ribuan koperasi yang sehat dan produktif, serta ekosistem ekonomi yang saling menguatkan dari desa, pesantren, sekolah, hingga komunitas masyarakat," pesannya.
Sementara itu, penyelenggaraan Fatayat NU Coop Connect menjadi ruang temu berbagai elemen ekonomi Nahdliyin untuk memperluas kolaborasi, memperkuat jaringan usaha, serta membuka peluang kemitraan antar koperasi dan UMKM. Sejalan dengan tema yang diusung, forum ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menghubungkan berbagai potensi ekonomi, memperkuat jejaring, dan menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui forum ini, PC Fatayat NU Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan sosial, tetapi juga melalui penguatan ekonomi berbasis koperasi yang kolaboratif, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.